Inggit Garnasih

Wisata Sejarah Jejak Wanita Pejuang Bandung, Inggit Garnasih

Ezytravellers, di antara tempat-tempat wisata sejarah di kota Bandung, banyak yang belum familier dengan Rumah Bersejarah Inggit Garnasih. Padahal letaknya di tengah kota. Mungkin, hal ini dikarenakan memang belum banyak yang mengetahui sosok wanita pejuang bernama Inggit Garnasih.

Inggit Garnasih

Ibu Inggit dan Bung Karno [Sumber foto Roso Daras]

Sebelum kita melihat-lihat rumah bersejarahnya, mari kita berkenalan dulu dengan Inggit Garnasih.

Tentang Inggit Garnasih

“Separuh dari semua prestasi Soekarno dapat didepositokan atas rekening Inggit Garnasih di dalam Bank Jasa Nasional Indonesia.”

Kalimat yang disampaikan S.I Poeradisastra—dalam Sekapur Sirih buku Kuantar ke Gerbang karya Ramadhan K.H—itu memberi gambaran betapa besar jasa Inggit Garnasih bagi Soekarno dan perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Rumah Inggit Garnasih
Wanita istimewa itu sebenarnya terlahir dengan nama Garnasih saja. Berasal dari kata Hegar Asih. Hegar artinya segar menghidupkan, sedang Asih berarti kasih sayang. Garnasih dipanggil Inggit pada awalnya karena perumpaan. Karena Inggit merupakan gadis tercantik kala itu, para pemuda merasa mendapat uang seringgit ketika diberi senyuman oleh Garnasih. Kata “Ringgit” kemudian berubah menjadi “Inggit”. Istri kedua Soekarno ini lahir tanggal 17 Februari 1888 di Desa Kamasan, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Surat Kawin dan Cerai Inggit Soekarno

Surat Kawin dan Cerai Inggit-Soekarno

Inggit bertemu Soekarno pada Juni 1921, saat itu Bung Karno masih belajar di Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang Institut Teknologi Bandung). Soekarno mengekos di rumah Inggit yang masih bersuami Sanusi, seorang saudagar dan anggota pergerakan Syarikat Islam Indonesia. Ketika itu Soekarno masih menjadi suami Oetari Tjokroaminoto, putri dari H.O.S Tjokroaminoto. Hubungan Inggit dan suaminya sudah lama dingin karena Sanusi yang terlalu sering meninggalkannya. Begitu pula antara Soekarno dan Oetari, yang lebih seperti hubungan kakak dan adik.

Kebersamaan Inggit dan Soekarno menumbuhkan cinta, perbedaan usia 12 tahun tidak menjadi penghalang. Setelah bercerai dari pasangan masing-masing, setahun kemudian mereka menikah di Bandung pada tanggal 24 Maret 1923.

Inggit sadar, menikah dengan mahasiswa berarti dia harus siap menjadi tulang punggung keluarga. Inggit menjual bedak, meramu jamu, dan menjahit kutang untuk menafkahi keluarga. Bukan hanya untuk suaminya, uang hasil kerja kerasnya juga dipakai untuk pergerakan. Rumah mereka pun sering dipakai untuk rapat-rapat politik.

 

Prasasti Rumah Bersejarah Inggit Garnasih

Prasasti Rumah Bersejarah Inggit Garnasih

Inggitlah yang terus mengobarkan semangat Soekarno, sekalipun berusaha dipadamkan oleh Belanda dengan menjebloskan Soekarno ke penjara Sukamiskin lewat tuduhan hendak menggulingkan kekuasaan Hindia Belanda. Dalam sidang Landraad Bandung, Soekarno dijatuhi hukuman empat tahun penjara. Namun bukan Inggit namanya bila tidak bisa tabah menghadapi cobaan itu. Perempuan berpendidikan rendah itulah yang menjadi agen rahasia bagi Soekarno.

 

Inggit mengirimi Soekarno makanan yang telah diberi sandi. Seperti telur yang telah ditusuk. Satu tusukan peniti berarti kabar baik, dua tusukan berarti seorang kawan ditangkap, lalu tiga tusukan berarti penyergapan besar-besaran dan semua pemimpin ditangkap. Inggit juga menyusupkan koin gulden ke dalam kue-kue yang dibawanya. Bahkan Inggit menyeludupkan buku-buku bacaan di balik kebayanya. Untuk itu, Inggit harus menahan diri untuk tidak makan supaya buku-buku itu dapat masuk dalam kebayanya. Dalam buku-buku yang diseludupkannya, Inggit telah memberi lubang-lubang kecil seperti huruf braile yang membentuk kalimat informasi perkembangan keadaan di luar. Dari buku dan informasi yang diberikan Inggitlah, Soekarno menyusun pidato pembelaan “Indonesia Menggugat”.

 

Pekarangan rumah Inggit Garnasih

Pekarangan rumah Inggit Garnasih

 

Untuk mengirimi Soekarno semua itu, Inggit rela berjalan kaki pulang pergi sejauh 30 kilometer di bawah terik matahari. Namun semua itu tidak dianggapnya sebagai pengorbanan. Dia ikhlas melakukannya untuk Soekarno dan pergerakan. Inggit juga rela mengikuti Soekarno saat dibuang ke Ende – Flores dan Bengkulu.
Soekarno dan Inggit berpisah karena Soekarno ingin menikahi Fatimah (Fatmawati). Soekarno beralasan menikahi wanita berumur 17 tahun itu untuk mendapatkan keturunan. Namun Inggit yang tidak rela dimadu, lebih memilih untuk berpisah.

 

Jejak Inggit-Soekarno Dalam Rumah Bersejarah

Ezytravellers, rumah Inggit Garnasih beralamat di Jalan Inggit Garnasih 174, Ciateul, Bandung. Rumah mungil ini dari luar pun tampak terawat dan asri. Di halamannya kita dapat menemukan prasasti bertuliskan Rumah Bersejarah Inggit Garnasih yang diresmikan pada tanggal 23 Desember 2010. Rumah itu sebagaimana kebanyakan rumah di Bandung, pernah terbakar pada peristiwa Bandung Lautan Api.
Rumah mungil berisi 8 ruangan kecil-kecil ini pada awalnya akan dijadikan museum Inggit Garnasih, tapi Pemda Jawa Barat kesulitan mengumpulkan jejak-jejak Inggit. Ruangan pertama merupakan tamu, di sebelahnya terdapat ruang baca, masuk ke dalam lagi terdapat ruang keluarga, kamar tidur, ruang pembuatan bedak dan jamu, lalu ruang serba guna. Baru di belakangnya ada beranda dan taman kecil.

Replika batu pipisan

Replika batu pipisan yang dipakai Inggit membuat bedak dan jamu

Di hampir seluruh bagian rumah dipajang foto-foto dokumentasi sejarah yang disertai keterangan kejadian yang mengiringinya. Ketika berdiri di ruang tamu, saya membayangkan saat ruangan itu menjadi tempat diskusi politik yang panas dan menggebu para pejuang kemerdekaan. Yang paling menarik adalah ruang pembuatan jamu, karena di sanalah terdapat satu-satunya replika batu pipisan yang dipakai Inggit membuat bedak dan jamu untuk menghidupi keluarga.

Di kamar tidur, terdapat figura berisi surat nikah dan cerai Inggit-Soekarno. Rumah itu juga dipajang dua tanda kehormatan untuk perjuangan Inggit. Pertama, Tanda Kehormatan Satyalancana Perintis Pergerakan Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1961. Kedua, Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera Utama pada tanggal 10 November 1997.

Inggit Garnasih

Tanda kehormatan yang diberikan pada Inggit Garnasih

Setelah mengunjungi rumah tersebut, saya berharap semoga Pemda Jawa Barat ke depannya membuat replika-replika barang peninggalan Inggit dan Soekarno untuk dipajang dalam rumah. Sehingga pengunjung bisa lebih mengetahui sejarah pergerakan perjuangan mereka di masa memerdekakan Indonesia.

Inggit bukanlah sekadar pendamping Soekarno, tetapi seorang pejuang kemerdekaan Indonesia. Semoga semangatnya akan terus tercatat dalam sejarah Indonesia. Rumah Inggit adalah saksi sejarah yang patut kita apresiasi.

Wisata Sejarah Jejak Wanita Pejuang Bandung, Inggit Garnasih
5 (100%) 3 votes
(Visited 542 times, 1 visits today)


About

Blogger yang kadang suka berfantasi mengalami time slip ke masa lalu.


'Wisata Sejarah Jejak Wanita Pejuang Bandung, Inggit Garnasih' have 13 comments

  1. 10/15/2015 @ 10:01 pm Wignya

    Rumahnya masih alami banget.
    Semoga tempat-tempat seperti ini akan terus terjaga ya.

    Reply

  2. 10/16/2015 @ 12:18 am Rahmah

    Itulah mengapa saya ingin sekali ke Bandung
    Banyak spot yang ingin saya jelajahi, salah satunya ini…

    Reply

    • 10/16/2015 @ 1:15 pm Eva Sri Rahayu

      Saya tunggu di Bandung, Mbak ^_^ Kita menjelajah bareng.

      Reply

  3. 10/16/2015 @ 7:59 am eda

    udah pernah baca cerita inii…. tapi baru tau kalo rumahnya masih terawat apik di bandung 😀

    btw, temen kantorku ada yg namanya inggit ganarsih juga..hahaha *apasih*

    Reply

  4. 10/16/2015 @ 11:02 am Nathalia Diana Pitaloka

    baru tau ceritanya… jasanya besar sekali ya… tapi endingnya sedih 🙁

    Reply

    • 10/16/2015 @ 1:16 pm Eva Sri Rahayu

      Iya, Teh. Aku juga sedih sama perpisahan mereka :'(

      Reply

      • 12/17/2016 @ 6:43 am Susie

        Your story was really inomvfatire, thanks!

        Reply

  5. 10/16/2015 @ 3:21 pm Evi Sri Rezeki

    Kagum banget sama Bu Inggit. Pengin lihat langsung rumahnya 🙂

    Reply

  6. 10/16/2015 @ 4:43 pm Nia Haryanto

    Sering lewat ke tempat ini. Tapi belom pernah masuk. Tar kalo senggang main ah…

    Reply

  7. 10/16/2015 @ 7:15 pm Euis Sri Nurhasanah

    Udah lama pengen berkunjung ke rumah bersejarah Ibu Inggit Garnasih. Sayang waktu ada acara bincang literasi sejarah di sana gak sempat ikutan. Kapan2 meluangkan waktu main kesini…

    Reply

  8. 10/17/2015 @ 5:00 pm Zahra Rabbiradlia

    Aku baru tahu ternyata sebegitu hebatnya perjuangan Bu Inggit.
    Tapi ya aku kadang belum bisa menerima lelaki yang menduakan istrinya, padahal istrinya itu berjuang habis2an untuk suami 🙁

    Reply


Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloBandungku.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool