Museum Negeri Sri Baduga

Menengok Sejarah Jawa Barat di Museum Negeri Sri Baduga Bandung

Ada banyak kearifan lokal yang tertanam dari masa lampau. Baik itu kearifan lokal yang bisa saya ambil dari sejarah Jawa Barat maupun daerah lainnya. Nilai-nilai yang tanpa sadar mungkin telah tercerabut dari saya sebagai manusia modern. Menggali kemudian mengamalkannya kembali bukan hal yang mudah, kadang saya mesti napak tilas. Beruntunglah Jawa Barat memiliki Museum Negeri Sri Baduga di Bandung, tempat saya dan Ezytravellers bisa menengok bentangan sejarah.

Bangunan Museum Negeri Sri Baduga

Museum Negeri Sri Baduga terletak di jalan B.K.R. 185 Tegallega, Bandung selatan. Patokannya museum ini bersebarangan dengan Monumen Bandung Lautan Api. Jadi Ezytravellers bisa langsung mengunjungi dua bagunan bersejarah sekaligus. Bagunan museum memiliki luas kurang lebih 8.415,5 m2, dulunya merupakan bangunan bekas kewedanaan alias bangunan perkantoran wedana.

Datanglah pada jam antara pukul 08.00 – 15.00 WIB pada hari selasa sampai jumat, dan pukul 08.00 – 14.00 WIB pada hari sabtu dan minggu. Perlu diingat, setiap senin adalah hari libur museum atau hari besar lainnya.

Museum Negeri Sri Baduga

Area parkir mobil Museum Negeri Sri Baduga

Dari arah luar Museum Negeri Sri Baduga, Ezytravellers dapat melihat area parkir mobil yang bisa menampung 20 bus, dan area parkir motor. Di sekitar area parkir, ada sebuah panggung mini dimana fasilitas tersebut sering dimanfaatkan sebagai tempat pertunjukan atau acara lainnya.

Museum Negeri Sri Baduga

Area parkir motor Museum Negeri Sri Baduga

Museum Negeri Sri Baduga

Stage mini Museum Negeri Sri Baduga

Masuk ke dalam museum, Ezytravellers bisa menyusuri bangunan yang terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama merupakan wilayah publik yang terdiri dari gedung pameran dan auditorium. Bagian kedua merupakan wilayah bukan publik, jadi ya saya cuma bisa ngintip-ngintip bangunan yang terdiri dari ruang perkantoran Kepala Museum, Sub Bagian Tata Usaha, Kelompok Kerja Bimbingan dan Edukasi, Kelompok Kerja Konservasi dan Preparasi, juga Kelompok Kerja Koleksi yang di dalamnya terdapat Gedung Penyimpanan Koleksi.

 

Revitalisasi Komplek Museum Negeri Sri Baduga

Kalau diperhatikan dengan saksama, Museum Negeri Sri Baduga masih belum sempurna betul. Ini disebabkan, museum masih dalam tahap revitalisasi berkala. Pertama kali dilakukan revitalisasi pada tahun 1974 sampai 1980. Lalu renovasi selanjutanya secara bertahap tahun 1989 sampai 1992. Arsitektur gedungnya merupakan bangunan khas Jawa Barat yang memiliki suhunan panjang dan rumah panggung dipadukan dengan gaya arsitektur modern. Pada awalnya, museum ini bernama Museum Negeri Propinsi Jawa Barat. Diresmikan tanggal 5 Juni 1980 oleh Dr. Daud Yusuf yang pada waktu itu menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Sepuluh tahun kemudian diganti menjadi Museum Negeri Sri Baduga.

Untuk membantu pengunjung memperoleh gambaran tentang perjalanan sejarah alam dan budaya Jawa barat, benda-benda koleksi ditempatkan di tiga lantai sesuai dengan jenis-jenis koleksinya. Selain tempat pameran, ada juga auditorium dengan layar besar, tempat pertunjukan, seminar, atau pemutaran film biasa dilakukan. Jangan lupa untuk mengunjungi perpustakaan museum, ada banyak koleksi buku langka di sana.

Perpustakaan Museum Negeri Sri Baduga

Perpustakaan Museum Negeri Sri Baduga

Penasaran nggak sih kenapa nama museum ini Museum Negeri Sri Baduga? Ternyata, Sri Baduga berasal dari nama raja Sunda yaitu Sri Baduga Maharaja Ratu Haji I Pakwan Pajajaran Sri Ratu Dewata, bukti tersebut terdapat pada prasasti Batu Tulis. Raja Sri Baduga adalah raja di Pakwan Pajajaran pada abad ke-16 Masehi. Replika prasasti Batu Tulis bisa Ezytravellers lihat di museum ini sebelah kanan depan area parkir mobil.

Replika Prasasti Batu Tulis

Replika Prasasti Batu Tulis

Koleksi Museum Negeri Sri Baduga

Apa saja yang bisa Ezytravellers tengok dalam Museum Sri Baduga? Ada sekitar 5.367 koleksi yang berbentuk realia (asli), replika, miniatur, foto, dan maket. Selain dipamerkan dalam pameran tetap, benda-benda tersebut didokumentasikan juga dengan sistem komputerisasi. Koleksi-koleksi itu diklasifikasikan menjadi 10 jenis, yaitu:

  1. Koleksi Geologika atau Geografika, terdiri dari objek-objek bertalian dengan batuan, mineral, fosil, dan objek bentukan alam lainnya.
  1. Koleksi Biologika, terdiri dari objek-objek penelitian makhluk hidup seperti fosil tengkorak, rangka manusia, tumbuhan, dan hewan.
  1. Koleksi Etnografika, terdiri dari benda-benda hasil budaya yang melukiskan identitas suatu etnis. Etnografika merupakan koleksi yang paling banyak.
  1. Koleksi Arkeologika, terdiri dari benda-benda peninggalan masa prasejarah sampai masuknya pengaruh Barat.
  1. Koleksi Historika, terdiri dari benda-benda sejak masuknya pengaruh barat hingga sekarang. Yaitu benda-benda yang berhubungan dengan suatu peristiwa sejarah, berkaitan dengan organisasi masyarakat, negara, kelompok dan tokoh.
  1. Koleksi Numismatika atau Heraldika, terdiri dari mata uang, tanda jasa, lambang, dan tanda pangkat.
  1. Koleksi Filologika, terdiri dari koleksi naskah kuno.
  1. Koleksi Keramologika, terdiri dari barang-barang yang terbuat dari tanah liat atau tembikar.
  1. Koleksi seni rupa, terdiri dari lukisan dua dimensi dan tiga dimensi (patung).
  1. Koleksi Teknologika, terdiri dari teknologi tradisional hingga zaman modern.

Hanya dengan membayar tiket Rp2.000 untuk anak-anak, pelajar, dan mahasiswa, dan Rp3.000 untuk umum, Ezytravellers bisa menengok sejarah Jawa Barat di Museum Negeri Sri Baduga, Bandung. Betapa harga itu sangat kecil ketimbang apa yang bisa kita dapatkan. Meski hanya menengok, mencecap sedikit aura sejarah, namun kita bisa meresapi kearifan lokal Jawa Barat lewat benda-benda yang berbicara.

Menengok Sejarah Jawa Barat di Museum Negeri Sri Baduga Bandung
5 (100%) 3 votes
(Visited 475 times, 1 visits today)


About

Blogger | Author | Entrepreneurship, but more than that, i'm a fantasy person


'Menengok Sejarah Jawa Barat di Museum Negeri Sri Baduga Bandung' have 19 comments

  1. 10/06/2015 @ 3:19 pm Benny Rhamdani

    aku udah ke sini. keren lho sebenarnya isinya. ada biskop mini juga.

    Reply

  2. 10/06/2015 @ 10:52 pm izna

    Sepertinya museum ini deket rumah saya deh πŸ˜‰

    Reply

  3. 10/07/2015 @ 7:07 am tian lustiana

    Wih keren. Next ajakin Marwah kesini aaah

    Reply

  4. 10/07/2015 @ 11:54 am eda

    belum pernah ke sanaaa… trus mupeng abis baca ini πŸ˜€

    Reply

  5. 10/07/2015 @ 1:05 pm Eva Sri Rahayu

    Suka inget masa kecil kalau main ke sana ^_^

    Reply

    • 10/08/2015 @ 11:49 am Evi Sri Rezeki

      Kayaknya bareng deh main ke sananya hehe

      Reply

      • 10/16/2015 @ 12:33 am Rahmah

        Teh Eva-Evi kudu alias wajib bawa Salfa ke sini
        Dari kecil mau saya biasakan senang dengan museum…

        Reply

  6. 10/07/2015 @ 7:30 pm Rinrin Irma Rahmawati

    Belum pernah ke sini ih… pengen pisan ngajak anak-anak ke sini, biar tau sejarah Sunda yang pernah berjaya

    Reply

    • 10/08/2015 @ 11:49 am Evi Sri Rezeki

      Iya bener, Teh. Banyak banget koleksinya dan kita bisa ngerasain aura Sunda zaman dulu

      Reply

  7. 10/09/2015 @ 9:50 am Nathalia DP

    klo inget museum ini, ingetnya waktu itu hampir kekunci di dalem krn keasyikan nyatet buat tugas sekolah, hehehe…

    Reply

  8. 10/09/2015 @ 6:42 pm Noniq

    Belum pernah kesana, ih gagal update banget nih #hix…

    Reply

  9. 10/10/2015 @ 10:18 am Akarui Cha

    Ada akses angkot nggak ya kalo main ke museum ini, Teh?

    Reply

    • 10/16/2015 @ 11:52 am Evi Sri Rezeki

      Ada Cha, angkot yang ke sini banyak kok. Pakai angkot yang ke arah terminal Kalapa, terminal Tegalega, atau teminal Leuwi Panjang

      Reply


Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

Β©2015Β HelloBandungku.comΒ a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool