Lapangan Tegalega Bandung: Wisata Sejarah Monumen Bandung Lautan Api

            Kalau Ezytravellers menyukai hal-hal berbau sejarah, dan merasa seperti tersedot ke masa lalu ketika berkunjung ke tempat wisata sejarah, berarti Ezytravellers wajib datang ke monumen Bandung Lautan Api di kota Bandung. Monumen setinggi 45 meter yang memiliki sisi sebanyak 9 bidang ini berada di lapangan Tegalega, tepatnya di jalan Muhammad Toha. Monumen ini didirikan untuk memperingati peristiwa Perang Kemerdekaan Indonesia.

Taman di lapangan Tegalega

Taman di lapangan Tegalega

Sebelum kita menjelajahi kawasan lapangan Tegalega dan melihat monumennya, saya mau cerita dulu sedikit sejarahnya.

 

Sejarah singkat di balik Monumen Bandung Lautan Api

Meskipun pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia sudah memproklamirkan kemerdekaan secara de facto, tetapi masih banyak negara lain belum mengakuinya. Setelah Jepang kalah, Inggris bekerja sama dengan Belanda (tentara NICA) berusaha menguasai tanah Indonesia. Mereka terus menyerang, bahkan melakukan pengeboman pada tanggal 5 dan 21 Desember 1945 yang menyebabkan banyak korban. Puncaknya, pada tanggal 23 Maret 1946 Inggris dan NICA memberikan ultimatum pada Tentara Republik Indonesia (TRI) untuk meninggalkan kota Bandung agar bisa dijadikan markas militer mereka.

Karena kekuatan TRI dan rakyat pada saat itu tidak sebanding dengan jumlah musuh yang sangat banyak, melalui musyawarah Madjelis Persatoean Perdjoangan Priangan (MP3) diputuskan bahwa Bandung akan dibumihanguskan daripada digunakan musuh. Pada tanggal 24 Maret 1946, Kolonel Abdul Haris Nasution yang menjabat Komandan Divisi III, mengumumkan hasil musyawarah tersebut. Sehingga pada hari itu juga, dalam waktu tujuh jam, dipimpin Muhammad Toha, dua ratus ribu penduduk Bandung dan TRI membakar rumah-rumah dan harta mereka. Mengikhlaskan segala yang mereka miliki dengan harapan suatu hari bisa kembali. Kemudian mereka berjalan kaki mengungsi ke daerah pegunungan di Selatan dengan perbekalan seadanya, meninggalkan Bandung yang telah berubah menjadi lautan api.

Inggris dan NICA yang tidak tinggal diam kemudian menyerang. Pertempuran terbesar terjadi di Desa Dayeuhkolot, tempat berdirinya gudang mesiu milik Sekutu. Muhammad Toha, Muhammad Ramdhan, dan beberapa pemuda lainnya yang mengemban misi untuk meledakannya. Mereka berhasil menghancurkan gudang beserta seluruh persedian senjatanya. Sayangnya, mereka semua tewas. Di kemudian hari, nama Muhammad Toha dan Muhammad Ramdhan diabadikan sebagai nama jalan di kota Bandung.

Istilah Bandung Lautan Api sendiri muncul dari tulisan Atje Bastaman, seorang wartawan. Saat itu Atje melihat pemandangan Bandung yang dilalap api dari bukit Gunung Leutik di Pameungpeuk, Garut. Atje lalu menulis berita yang dimuat di harian Suara Merdeka pada tanggal 26 Maret 1946 dengan judul awal Bandoeng Djadi Laoetan Api, tapi karena keterbatasan ruang, judulnya menjadi Bandoeng Laoetan Api.

 

Ada apa saja di lapangan Tegalega?

Untuk dapat mengunjungi monumen Bandung Lautan Api, Ezytravellers harus memasuki kawasan lapangan Tegalega Bandung dengan membayar biaya retribusi sebesar seribu rupiah. Kendaraan bisa diparkir di tempat parkir khusus di luar atau di dalam area lapangan. Nama Tegalega sendiri berasal dari bahasa Sunda, yaitu “tegal” yang berarti lapangan, sedangkan “lega” artinya luas. Memang lapangan ini sangat luas, yaitu 16 hektar. Terbagi menjadi beberapa bagian: taman, area monumen, track joging, lapangan, dan taman-taman. Kadang-kadang, lapangan ini dipakai berbagai acara hiburan musik, bazzar, dan jalan sehat. Pada hari raya umat Islam, lapangan Tegalega selalu dipakai untuk salat berjamaah.

Pasar tumpah di lapangan Tegalega

Pasar tumpah di lapangan Tegalega

Pertama kali masuk, Ezytravellers akan disambut dengan jajaran pedagang kaki lima yang menjajakan berbagai macam barang dan makanan di sepanjang jalan besar yang merupakan track untuk joging. Pada hari Sabtu dan Minggu tempat ini berubah menjadi pasar tumpah yang padat, sehingga Ezytravellers bisa menikmati berbagai kuliner—termasuk makanan khas kota Bandung seperti surabi—sambil berbelanja berbagai barang dengan harga murah meriah.

Pedangan kaki lima di lapangan Tegalega

Pedangan kaki lima di lapangan Tegalega

Di antara jajaran pedagang, kita akan menemukan mobil milik Badan Kearsipan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat (BAPUSIPDA) yang bagian belakangnya terbuka sehingga kita bisa melihat televisi besar yang dipajang di sana. Televisi itu menayangkan video dokumenter sejarah perjuangan menggapai kemerdekan Indonesia. BAPUSIPDA juga memajang foto-foto sejarah kota Bandung.

 

Mobil BAPUSIPDA

Mobil BAPUSIPDA

 

Mengapit jalan itu, di kiri dan kanan terbentang taman dengan pepohonan yang teduh. Ezytravellers bisa duduk-duduk sambil menikmati kicauan burung dan mempelajari jenis-jenis pohon.

Keterangan pohon

Keterangan pohon

 

Masuk lebih dalam, Ezytravellers bisa berolah raga. Banyak pilihan olah raga yang bisa dilakukan selain joging. Di sisi kanan area berpagar, terdapat lapangan yang selain dipakai untuk bermain bola, yang pada pagi hari digunakan untuk senam. Di tempat yang sama, Ezytravellers bisa bermain bulu tangkis dengan menyewa dua raket dan satu kok, cukup membayar lima ribu rupiah saja. Maju lagi ke kanan, Ezytravellers penyuka skateboard bisa ikut bermain, bergabung dengan pecinta skateboard kota Bandung.

 

Track joging di lapangan Tegalega

Track joging di lapangan Tegalega

 

Di kiri lapangan, terdapat area Monumen Bandung Lautan Api. Daerah ini dikelilingi pagar dan selalu dikunci, agar kebersihannya lebih terjaga. Dulunya di bawah monumen banyak berserakkan sampah-sampah, dan monumennya dirusak oleh oknum tidak bertanggungjawab. Namun sekarang tempatnya bersih terawat. Kita baru bisa masuk ke sana bila sudah mendapat izin dari keamanan, misalnya untuk penelitian atau anak-anak sekolah yang mempelajari sejarah.

 

Lapangan Tegalega

Lapangan Tegalega

 

Monumen Bandung Lautan Api merupakan simbol kecintaan, pengorbanan, dan tekad membela harga diri bangsa. Bentuk monumen yang seperti obor dengan api yang menyala-nyala ini seakan terus membakar jiwa kita agar tidak kehilangan semangat perjuangan untuk Indonesia. Mungkin nanti hati Ezytravellers diam-diam tergetar, sambil di kepala terngiang-ngiang lagu Halo-halo Bandung, lagu untuk mengenang peristiwa Bandung Lautan Api, lagu kerinduan untuk kembali ke Bandung.

Halo-halo Bandung

Ibu kota periangan

Halo-halo Bandung

Kota kenang-kenangan

Sudah lama Beta

Tidak berjumpang dengan Kau

Sekarang telah menjadi lautan api

Mari, Bung, rebut kembali.

Lapangan Tegalega Bandung: Wisata Sejarah Monumen Bandung Lautan Api
3.67 (73.33%) 3 votes
(Visited 1,152 times, 1 visits today)


About

Blogger yang kadang suka berfantasi mengalami time slip ke masa lalu.


'Lapangan Tegalega Bandung: Wisata Sejarah Monumen Bandung Lautan Api' have 24 comments

  1. 10/07/2015 @ 10:44 am Benny Rhamdani

    wuah udah asyik ya. Kalo dulu daerah ini seyeeem … banyak yang KW-KW

    Reply

    • 10/07/2015 @ 1:22 pm Eva Sri Rahayu

      Iya, sekarang pengelolaannya udah jauh lebih baik, Kang Ben ^_^

      Reply

  2. 10/07/2015 @ 11:49 am eda

    waaah.. kumplit ceritanyaa.. sukaaa..

    kapan2 kalo ke bandung lagi harus mampir ke sini 😀

    Reply

  3. 10/07/2015 @ 2:49 pm Fajruddin Muchtar

    waah… saya belum pernah ke sana setelah penanaman itu…

    Reply

    • 10/10/2015 @ 9:27 pm Eva Sri Rahayu

      Ayo, Kang, main lagi ke sana. Bersih dan adem sekarang ^_^

      Reply

  4. 10/07/2015 @ 4:42 pm Rinrin Irma Rahmawati

    udah lama euy gak pernah masuk ke BLA… terakhir nganter anakku manasik haji di situ tahun 2010, kalo kata kang Benny jaman masih ada KW-KWnya… ahaha… sekarang paling lewat doank terus nyungsep di Muara. Nanti mah mampir aahhh

    Reply

    • 10/10/2015 @ 9:28 pm Eva Sri Rahayu

      Kabarin ya, Teh, kalau mau ke sana. Kita piknik bareng ^_^

      Reply

  5. 10/07/2015 @ 7:42 pm Bai RUindra

    Lengkap ni, bisa jd referensi. Salam hangat dr Aceh

    Reply

  6. 10/07/2015 @ 10:26 pm Nia K. Haryanto

    Udah lama banget gak masuk ke dalemnya. Ih pangling. Pengen maeeeen…

    Reply

  7. 10/08/2015 @ 3:15 am Hastira

    wah sekarang sudah berubah jadi mengasyikan ya, jaman aku masih sekolah ini lapangan mah serem

    Reply

  8. 10/08/2015 @ 11:19 am izna

    salah satu tempat yang nampaknya enak untuk joging sore, sambil lihat” monumenya.

    Reply

  9. 10/08/2015 @ 12:14 pm Evi Sri Rezeki

    Terharu ya sama perjuangan mempertahankan Bandung ini T.T

    Reply

  10. 10/09/2015 @ 9:52 am Nathalia DP

    pengen ih, joging (+ jajan) di sana lagi…

    Reply

    • 10/10/2015 @ 9:32 pm Eva Sri Rahayu

      Kita memang harus lari dari godaan barang-barang sama makanannya di sana, Teh 😀

      Reply

  11. 10/09/2015 @ 6:50 pm Noniq

    Tiap ke Tegalega buat joging selalu gagal, soalnya lebih kalap sama jajanannya hehehe

    Reply

  12. 10/11/2015 @ 7:26 am Zahra Rabbiradlia

    Betapa heroiknya warga Bandung saat itu. Gak bisa ngebayanin harus meninggalkan Bandung dan membakar seluruh harta benda agar sekutu tidak mengambil alih Bandung. Aduh Gusti, ini barangkali yang namanya ikhlas dan tawakal ya.

    Reply

  13. 10/16/2015 @ 12:22 am Rahmah

    Teh Eva nanti jani ya ajakin ke sini kalau saya ke Bandung… ^_^

    Reply


Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloBandungku.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool