Museum Geologi Bandung

Keseruan Night at The Museum di Bandung

Hello, Ezytravellers! Ada yang movie freak kah? Kalau Ezytravellers juga pecinta film, tentunya masih ingat keseruan seperti apa yang ada di film Night at The Museum. Nah, kalau biasanya museum buka hanya di siang hari, kini Ezytravellers juga bisa merasakan sensasi berkunjung ke museum di malam hari. Yup! Di Bandung ada lho museum yang buka di malam hari.  Penasaran seperti apa? Yuk, segera pesan tiket ke Bandung untuk liburan nanti dan pastikan Museum Geologi jadi salah satu tujuan Ezytravellers selama berlibur di Bandung.

SEJARAH GEDUNG MUSEUM GEOLOGI BANDUNG

Museum Geologi didirikan untuk menunjang penyelidikan mengenai batuan dan tambang di Indonesia yang sudah dimulai sejak 1850-an. Hasil dari penyelidikan tersebut dibutuhkan tempat untuk penyelidikan dan penyimpanan, sehingga pada tahun 1928 didirikanlah lembaga yang bernama Dienst van den Mijnbouw di jalan Rembrandt Straat (sekarang Jalan Diponegoro) Bandung.

Museum Geologi dibangun oleh 300 orang pekerja dan menghabiskan biaya sebesar 400 Golden. Dirancang oleh seorang arsitek Belanda, Ir. Menalda van Schouwenburg dengan gaya Art deco, pembangunan Museum Geologi dimulai di tahun 1928 dan diresmikan pada tanggal 16 Mei 1929, sekaligus pembukaan gedung “Dienst van den Mijnbouw” dan bertepatan dengan pembukaan kongres Ilmu Pengetahuan Pasifik ke-IV.

Museum Geologi Bandung

Peserta Konferensi Ilmu Pengetahuan Pasifik ke-IV (Foto : http://museum.geology.esdm.go.id/)

Awalnya, gedung ini bernama Geologisch Laboratorium kemudian berubah menjadi Geologisch Museum.

Di jaman penjajahan Jepang, Letjen Ter Poorten menyerahkan kekuasaanya atas nama pemerintahan kolonial Belanda kepada Letjen H Imamura pada tahun 1942. Keberadaan museum geologi saat itu beralih kepengurusan dan berganti nama menjadi Kogyo Zimusho sampai satu tahun kemudian menjadi Chishitsu Chosacho.

Setelah pasukan Jepang kalah, Museum Geologi berada di bawah pengawasan Pusat Djawatan Tambang dan Geologi (PDTG, 1945 – 1950). Pada tanggal 19 September 1945, pasukan sekutu pimpinan oleh Amerika Serikat dan Inggris yang memboncengi Netherlands Indies Civil Administration (NICA) mendesak pemerintah Indonesia untuk menguasai kantor PDTG. Tekanan yang dilancarkan oleh pemerintah Belanda mendesak kantor PDTG untuk berpindah ke Jl. Braga No. 5 dan No. 8, Bandung pada tanggal 12 Desember 1945.

Pada waktu itu, Tentara Republik Indonesia divisi III Siliwangi mendirikan bagian tambang yang sebagian besar diambil dari PDTG.  Selama 4 tahun PDTG  berpindah-pindah akibat dari pertempuran dimana mana. Karena sering berpindah inilah, Pemerintah Indonesia berusaha menyelamatkan dokumen- dokumen hasil penelitian geologi ke daerah Tasikmalaya, Magelang, Yogyakarta dan Solo. Di tahun 1950 dokumen-dokumen tersebut dapat dikembalikan ke Bandung.

Pada tahun 1999 Museum Geologi mendapat bantuan sebesar 754, 5 Juta Yen untuk renovasi museum. Setelah ditutup untuk renovasi selama satu tahun, tahun 2000 Museum Geologi diresmikan oleh wakil presiden Ibu Megawati SukarnoPutri yang didampingi oleh Menteri Pertambangan dan Energi, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono  dan kembali dibuka untuk umum.

Dari penataan ulang ini, Museum Geologi dibagi menjadi tiga ruangan utama yang meliputi ruangan Geologi Indonesia, Sejarah Kehidupan dan Geologi dan Kehidupan Manusia. Sampai sekarang, museum geologi mempunyai fasilitas Auditorium untuk pemutaran film dokumentasi mengenai sejarah.

ADA APA DI MUSEUM GEOLOGI BANDUNG?

Di film Night at The Museum, ketika malam mulai larut semua penghuni museum (yang tentu saja berupa koleksi benda-benda kuno dan peninggalan sejarah) ternyata bisa berinteraksi dengan Larry Daley, si penjaga museum American Museum Of Natural History. Firaun, Teddy Rossevelt (yang diperankan Robin Williams), Lancelot, dan banyak tokoh penting lain yang juga menghuni museum memiliki misi tersendiri. Keadaan museum tentu saja menjadi di luar kendali. Ketika pagi tiba, mereka akan kembali ke wujud semula di tempat yang seharusnya.

Kalau American Museum of Natural History punya Rossevelt, bagaimana dengan Museum Geologi?

Berkunjung ke Museum Geologi Bandung seolah kita diajak kembali menelusuri jejak masa lalu. Di pintu masuk kita disambut oleh replika fosil gajah purba berukuran raksasa. Fosil gajah purba ini ditemukan di Blora, Jawa Tengah dan merupakan fosil gajah purba terlengkap (utuh 90%) yang pernah ditemukan. Dari hasil rekonstruksi fosil yang selesai di tahun 2013, diperkirakan gajah purba ini semasa hidupnya memiliki bobot 6-8 ton dengan tinggi 4 meter dan panjang 5 meter dan usia fosilnya sekitar 250-200 ribu tahun.

Museum Geologi Bandung

Fosil gajah purba raksasa di dekat pintu masuk Museum Geologi (Foto : BandungNewsPhoto)

Lantai 1 Museum Geologi terbagi menjadi beberapa ruangan. Di salah satu ruangan kita bisa melihat  hipotesis terjadinya bumi di dalam sistem tata surya,  maket model gerakan lempeng-lempeng kulit bumi aktif, keadaan geologi Sumatera, Jawa, Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara serta Irian Jaya.

Sementara di ruang lain digambarkan sejarah pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup, dari primitif hingga modern. Di dalam ruang pamer ini juga dipamerkan fosil-fosil binatang purba seperti gajah purba, replika fosil dinosaurus Tyranosaurus rex yang berukuran panjang 12,2 meter dan tinggi 3,7 meter dan lain-lain. Di ruang pamer lainnya, dijelaskan tentang perkembangan manusia dari era awal hingga kini.

Koleksi fosil Museum Geologi yang menjadi perhatian ilmuwan dunia, khususnya ahli paleoantropolgi, adalah “manusia purba” Homo erectus yang disimpan tersendiri dalam “safety box”. Rekonstruksi wajah Homo erectus ini disusun oleh Yoichi Yazawa dengan supervisi oleh Dr. Fachroel Aziz dari Museum Geologi dan hisao Baba dari Jepang berdasarkan fosil tengkorak spesimen Sangiran 17 (Pithecanthropus VIII) yang ditemukan di Desa Pucung, Sangiran, Jawa Tengah (1969). Fosil ini merupakan Homo erectus terlengkap di Asia yang meliputi tengkorak bagian atas, dasar tengkorak, bagian muka (tulang hidung), rahang atas dengan sebagian gigi utuh.

Museum Geologi Bandung

Rekonstruksi wajah Homo erectus di Museum Geologi Bandung (Foto : DongengArkeologi)

Museum Geologi juga memiliki puluhan ribu koleksi fosil invertebrata, dari jenis moluska Tersier yang disusun berdasarkan lokasi dan jenisnya.

Selain itu, terdapat pula puluhan ribu koleksi fosil vertebrata yang terdiri dari koleksi sebelum kemerdekaan yang umumnya koleksi fosil vertebrata dari Jawa, hasil penelitian Tim Peneliti Fosil Vertebrata Museum Geologi terutama hasil penelitian di daerah Cekungan Walanae, Sulawesi (1986-1993) dan Cekungan Soa, Flores (1993-sekarang) dan daerah lainnya. Fosil-fosil vertebrata ini disusun dalam ruang penyimpanan koleksi berdasarkan lokasi.

Beberapa koleksi fosil vertebrata ini diperagakan di ruang peragaan Sejarah Kehidupan yang menempati lantai 1 sayap kiri Museum Geologi.

Museum Geologi Bandung

Berbagai koleksi fosil vertebrata di Museum Geologi Bandung (Foto : Rinrin Irma)

Ada juga ruangan yang memamerkan sisa-sisa peninggalan bencana alam tsunami Aceh dan letusan Gunung Merapi.

Museum Geologi Bandung

Sisa-sisa peninggalan letusan Gunung Merapi yang dipamerkan di Museum Geologi (Foto : Rinrin Irma)

Tentunya dengan model maket yang menjelaskan bagaimana tsunami itu terjadi, dan apa yang harus kita lakukan untuk menghindara dampak bencana yang lebih besar.

Di lantai 2 sayap kiri, Ezytravellers bisa melihat peranan geologi untuk kehidupan manusia. Di sini ada maket-maket kegiatan geologi seperti kegiatan pertambangan, kegiatan pengeboran minyak lepas pantai, dan maket kapal super besar pembawa gas hasil tambang.

Di Museum Geologi Bandung juga ada ratusan ribu koleksi batuan, fosil, dan berbagai koleksi lain yang sebagian besar merupakan hasil survey atau penelitian mulai dari jaman Opsporingsdienst, de Geologische Dienst van Nederlandsch-Indie, Dienst van den Mijnbouw hingga Badan Geologi sekarang. Ada juga koleksi yang berasal dari sumbangan, tukar-menukar ilmiah atau hasil pembelian untuk koleksi tertentu.

Koleksi batuan yang mencapai ratusan ribu ini dikelompokkan berdasarkan lokasi dan dilengkapi dengan peta geologi asal koleksi batuan tersebut serta keterangan lainnya. Salah satu koleksi batuan yang diperagakan di lantai 2 sayap timur Museum Geologi adalah  meteorit Jati-Pangilon yang merupakan meteorit terbesar di Indonesia.

Museum Geologi Bandung

Koleksi meteorit terbesar di Indonesia, meteorit Jati-Pangilon di Museum Geologi Bandung (Foto : Rinrin Irma)

Nah, buat Ezytravellers yang hobi batu akik, di ruang sayap timur lantai 2 ini juga Ezytravellers bisa melihat beberapa mineral langka dan batu mulia seperti  giok, pirus, kecubung (amethyst), dan masih banyak lagi.

KAPAN NIGHT AT THE MUSEUM DI MUSEUM GEOLOGI BANDUNG DIADAKAN?

Awalnya Night at The Museum diadakan pertama kali dalam rangka memperingati hari ulang tahun Museum Geologi tanggal 24 Mei 2014. Kemudian menjadi event rutin dan diadakan di minggu pertama setiap bulan. Untuk bulan ini baru saja diadakan akhir pekan kemarin di tanggal 10 Oktober 2015.

Jadi, ayo lihat kalender dan segera tandai akhir pekan di minggu pertama. Setelah itu? Pesan tiket buat ke Bandung donk. Oya, harga tiket masuk ke Museum Geologi di siang hari maupun khusus acara Night at The Museum terbilang sangat murah koq. Untuk pelajar tiketnya seharga Rp. 2.000,-, Umum Rp. 3.000,- dan Turis Asing Rp. 10.000,-.

Yuk, kita intip apakah T-rex, gajah purba dan Pithecanthropus VIII di Museum Geologi di Bandung ini hidup di malam hari??? Hiyyyy…

Museum Geologi Bandung

Night at The Museum (Foto : Furry Andini)

Selamat berlibur!

Referensi : Museum Geologi

Keseruan Night at The Museum di Bandung
5 (100%) 2 votes
(Visited 568 times, 1 visits today)



'Keseruan Night at The Museum di Bandung' have 11 comments

  1. 10/15/2015 @ 9:57 pm Pakde Cholik

    Wah info tujuan wisata yang manrik
    Semoga kalau ke Cimahi bisa main ke kawasan ini
    Terima kasih reportasenya Jeng
    Salam hangat dari Jombang

    Reply

  2. 10/16/2015 @ 12:28 am Rahmah

    Paling senang mengunjungi Museum 🙂
    Ajaklah saya kapan-kapan ke sini…

    Reply

  3. 10/16/2015 @ 10:59 am Nathalia Diana Pitaloka

    wah… wajib bgt nih nyobain night at the museum, sensasinya pasti beda yah…

    Reply

  4. 10/16/2015 @ 12:19 pm Evi Sri Rezeki

    Huaaa mau banget nyobain night at the museum 😀

    Reply

  5. 10/16/2015 @ 4:52 pm Nia Haryanto

    Sering ke sini. Tapi gak pernah bawa anak-anak. Seru kayaknya nanti kalo ke sana bawa mereka. Mereka pasti excited liat dinosaurus…

    Reply

  6. 10/16/2015 @ 10:14 pm Euis Sri Nurhasanah

    Aku beberapa kali kesini, tapinya siang hari. Soalnya tempatnya deket, jalan kaki jg nyampe :D. Kapan2 pengen nyobain Night at The Museum, kudu catet di kalender ya.

    Reply

  7. 10/20/2015 @ 3:10 pm @nurulrahma

    karena sidqi, anakku lagi sukaaak ama dinosarus, sepertinya spot ini bolehlah kita cubak kapan2 🙂

    http://hellosurabaya.com/ceker-ayam-lapindho-destinasi-kuliner-amigos-yang-bikin-keringat-ndrodos/

    Reply

  8. 10/28/2015 @ 2:50 am noniq

    Aku suka banget ke Museum Geologi, walopun demi foto sama T-Rex, eyah dan baru nyadar ternyata ada event ginian tiap bulan.. Ckckckck…Kudet hahaha

    Reply

  9. 11/05/2015 @ 10:04 pm sutopo

    wah keren nih museumnya,masih banyak barang barang peninggalan sejarah..
    good jobs
    regards
    sutopo :3

    Reply

  10. 08/22/2016 @ 10:25 am budidaya jahe

    wih keren banget, mau dong ksn, waow banget

    Reply


Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloBandungku.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool